Tahun 2021 bener-bener berjalan cepet banget, atau cuma aku doang? Aku nulis postingan "2020... 1?" tiba-tiba udah hampir setaun. Barusan heboh ini, tau-tau udah muncul rekomendasi ini. Kenalan sama temen sekelas baru, terus tiduran, rebahan, eh ngerti-ngerti udah semesteran. Rasanya cepat—terlalu cepat!
Kamu juga ngerasa kayak gitu ngga sih?
Semoga kamu juga, ya. Kata seorang pengamat, waktu berjalan cepat kalau kita menikmati hal yang kita lakuin.
Aku ngga tau harus mulai dari mana. Banyak banget yang sudah aku lalui selama setahun ini. Ngga mungkin aku ceritain satu per satu di sini karena ... ngga ada manfaatnya buat kalian juga sih.
Kalau pun ada yang bisa—dan boleh—aku ceritain ke kalian, kayaknya cuma: pengalamanku itu ngga semua menyenangkan, tetapi pelajaran yang kuperoleh dari semua kejadian itu menyenangkan untuk ke depannya.
(Tarik napas dulu .... Sekarang, mari kita agak serius dan formal, hehe)
Maksudku, semua yang bisa aku petik dari pengalamanku bakal berguna dalam sisa perjalananku melalui rintangan kehidupan.
Salah satu buah yang kudapat, aku sadar kalau semua hal—yang baik maupun buruk—ada kedaluwarsanya. Hidup ngga bisa selalu membahagiakan, sekeras apapun kita berusaha. Sisi positifnya, hidup juga ngga mungkin selalu menyedihkan, seburuk apapun yang terjadi.
Mungkin kamu sekarang sedang tumbang-tumbangnya, sedang ada di bagian bawah roda kehidupan, sedang merasa kesepian, merasa ngga dicintai, atau mungkin sedang kehilangan dan merasakan duka yang mendalam. Mungkin kamu sedang dicabik-cabik oleh angin yang berhembus kencang melawan arusmu, atau ditindih oleh penderitaan yang amat sangat berat. Yakinlah, lorong gelap itu punya ujung yang akan membawamu keluar ke sebuah tempat yang bisa kamu sebut "rumah".
(Ngga bermaksud menggurui ><)
Aku ngga menyalahkan kalian kalau ngga percaya sama kata-kata berlebihan yang kutulis di atas (apalagi yang nulis cuma bocah 16 tahun yang masih belum tau apa-apa tapi sok tau banget).
Sejujurnya, aku ngga pernah percaya sama kata-kata itu juga ... sampai aku mengalaminya sendiri.
Tahun 2021 ini bagiku sangat sesak dengan kejutan. Ada kejutan yang membawa tangis haru, tetapi ada pula yang mengalirkan tangis pilu-biru. Namun, kedua kejutan itu ingin aku dekap erat sambil kusampaikan terima kasih sebesar-besarnya.Mungkin kalian tidak perlu tahu kejutan apa yang kudapatkan, tetapi aku ingin memberi tahu kalau semua itu bisa kudapatkan—semua yang kukira tak mungkin pernah kualami seumur hidup—karena aku memberanikan diri untuk mengambil risiko di luar zona nyaman.
Aku ngga tahu kalau aku yang terlalu parno atau langkahku memang kurang jauh, tapi risiko yang kutemui ternyata tidak se-menakutkan yang kubayangkan.
Kalau zona nyaman itu kasur, maka yang kutemukan setelah bangun dari kenyamanan hanya sebatas lantai kamar. Lantainya terbuat dari lava atau kolam hiu, mungkin. Namun, setelah sejenak (hanya sejenak) melewati lantai tidak masuk akal itu, aku dihadapkan dengan pintu.
Pintu itu akan membawa ke zona nyaman lagi. Hanya saja, zona nyaman ini bukan kasur, melainkan:
Aku: "Kamu siapa?"
Dia: "Penjaga pintu sekaligus sopir. Namaku Kesempatan Besar untuk Berkembang."
Aku: "..."
Dia: "Aku datang menjemputmu dengan mobil merek Tanggung Jawab. Mobil ini bisa membawamu ke berbagai petualangan seru, kalau kamu cukup berani."
WKWK, abaikan perumpamaanku yang kepanjangan. Intinya, aku pengin bilang kalau apa yang aku dapatkan di luar zona nyaman itu lebih besar dari rasa takutku.
Kalian pasti bertanya-tanya, apa saja yang sebenarnya sudah aku alami selama setahun ini. Aku pengin banget bisa memberi sedikit gambaran tentang pengalamanku.
Namun, tahun ini aku juga belajar kalau ada saat di mana apa yang diinginkan itu tidak dibutuhkan. Sebaliknya pun berlaku. Apa yang dibutuhkan, belum tentu datang dalam bentuk yang diinginkan.
Mungkin di pos-pos selanjutnya, aku akan memberi sedikit gambaran.
Ya ampun, tiba-tiba tulisanku udah sepanjang ini, padahal masih ada beberapa hal yang ingin kusampaikan.
Singkatnya, aku bertemu seseorang yang membuatku lebih membuka pikiran terhadap sesuatu yang tidak aku sukai, atau bahkan aku benci.
Kita semua pasti punya sesuatu yang kurang kita apresiasi. Menurutku, saat aku tidak suka atau benci terhadap sesuatu, sebenarnya aku cuma belum memahami hal itu. Kelak, mungkin aku akan lebih paham dan membatin, "Oh, ternyata tidak seburuk yang kukira."
Kemudian, aku ingin membahas pentingnya komunikasi yang baik dan benar. Selama setahun ini, aku belajar bagaimana cara memahami dan dipahami orang lain.
Dulu, aku enggan memutar otak untuk berkomunikasi, apalagi dengan orang yang belum kukenal dekat. Lalu, aku juga cenderung mengutarakan apapun yang ada di pikiranku, bahkan yang tidak penting sekalipun. Dengan kata lain, aku selalu mengutamakan kenyamananku sendiri.
Namun, aku kini mengubah pola pikir dan berusaha menjadi pendengar yang lebih baik. Aku memperhatikan situasi dan kondisi sebelum menyampaikan sesuatu, serta menahan lidah agar tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak butuh didengar orang lain.
Tujuanku adalah membuat semua orang nyaman. Aku pun ragu apakah aku sudah menyetir dengan benar untuk mencapai tujuan, tetapi aku berdoa peta yang kupegang tidak menyesatkanku.
Terakhir, tentang cinta, tentang menyayangi diri sendiri sebelum membagikan cinta yang sehat.
Kalau kupikir-pikir, sepertinya kunci hidup ini adalah cinta. Afeksi. Kasih sayang. Di tahun 2020 lalu, aku sudah belajar mencintai diri sendiri. Di tahun 2021 ini, giliran aku belajar mencintai sesama.
Terus terang, sulit bagiku untuk sepenuhnya bersyukur atas limpahan kasih yang sudah kurasakan dan kuberikan. Masalahnya, aku sadar kalau limpahan itu bisa hilang dalam sekejap. Mikirin itu membuatku khawatir dan takut, tapi sepertinya itu bagian dari mencintai ....
Nah, rasanya lega setelah menata pemikiran dan merefleksikan pasang surutku tahun ini!
Aku tahu, tulisan tahun baru yang tahun lalu, aku pakai Bahasa Inggris, tetapi sekarang ngga. Ngga konsisten banget, ya?
Yah, di tahun ini aku juga mulai lebih mencintai kekayaan negeri Indonesia ini. Mulai dari bahasa, seni, sejarah, juga seluruh warga negaranya.
Aku pengin mengakhiri tulisan ini, tapi teringat ....
Beberapa waktu lalu, aku ngetik sebuah surat untuk diriku di masa depan. Sepertinya ini saatnya membalas:
thank you for the letter. here i am, been through what you thought was impossible. i've made it, and you were right—i am stronger than ever. xoxo.
Selesai~
Terima kasih, terima kasih 2021. Terima kasih, Tuhan.
Terima kasih juga buat kamu yang sudah meluangkan waktu untuk membaca tulisanku <3
Aw semangat menjalani tahun 2022 ya Kak 💪
BalasHapusAw semangat juga kamuuuu <3
Hapussmangat kak
BalasHapus